Tentang Takdir

Sesungguhnya aku tidak mau mempercayai ramalan, karena percaya pada sesuatu yg seharusnya menjadi rahasia Tuhan, merupakan suatu tindak kesyirikan. Sungguh, aku tidak mau di cap sebagai manusia yg syirik, yg lebih percaya pada perkataaan antar manusia ketimbang mempercayai kuasa Tuhan yg sesungguhnya. Tapi, entah kenapa, tiap kali pikiran itu terbersit, aku mendadak menjadi takut. Sungguh, aku takut sekali.

Tuhan, aku tahu, ini tidak benar. Aku mencemaskan sesuatu yg masih menjadi misteri di masa depan. Aku menakuti sesuatu yg jelas-jelas akan menimpa setiap manusia yg hidup di muka bumi ini. Yaa, kehilangan! Aku takut kehilangan! Apalagi jika yg hilang itu adalah sesuatu yg selama ini aku jadikan pijakan. Sesuatu yg selama ini selalu melindungiku, menyelamatkanku dari jurang yg pernah menenggelamkanku, yg rela menekan egonya demi aku, yg begitu sabar dalam menghadapi keegoisanku yg tak pernah mau mengalah dgn keadaan. Tuhan, apa aku akan sanggup jika sesuatu itu akan benar-benar menghilang dalam beberapa waktu nanti??? Sementara aku saja masih belum bisa membahagiakannya hingga sekarang???

Tuhan, Kau tau, tak ada manusia di dunia ini yg ingin gagal. Tak ada manusia di dunia ini yg ingin menciptakan berjuta kali kekecewaan. Namun, rencanaMu selalu lain. Apa yg diinginkan setiap  manusia, belum tentu itu yg Kau beri. Aku tau & aku paham, bahwasanya mungkin saja esok hari nanti, ada sesuatu yg indah yg tengah menantiku. Sesuatu yg mungkin akan aku dapatkan setelah aku menghabiskan banyak airmata akibat keegoisanku sendiri. Sesuatu yg begitu agung. Yaa mungkin.... Mungkin saja......

Tapi, kecemasan tetaplah kecemasan. Aku sama sekali tak sanggup membayangkan kebahagiaan apapun jika pijakanku itu nanti benar-benar runtuh pada suatu waktu. Terlebih lagi jika pijakan itu runtuh di saat posisiku masih seperti ini. Aaaakkhh! Membayangkannya saja aku ngeri. Bagaimana jika benar-benar sudah kejadian???

Tuhan, sungguh aku tidak mau terus menggantungkan beban sementara ancaman bayang kegelapan itu semakin mendekat. Ini benar-benar siksaan yg luar biasa! Hei, tak bisakah Kau mengangkat separuh saja bebanku ini agar ketika bayangan itu datang, itu tak terlalu membebani??? Bisakah??? Kumohon!! Izinkan aku sekali lagi untuk memperbarui takdirku! Aku benar-benar tak bisa terus seperti ini. Secuil saja, Tuhan. Karena kata-kata pahit itu, selalu saja terngiang-ngiang di benakku. Aku tak bisa mengenyahkannya begitu saja. Aku takut, sungguh! Aku benar-benar tak ingin menjadi kesusahan mereka yg selama ini menelan tingkah egoisku! Kumohon Tuhan! Sedikit saja! Bisa???

Popular Post!

Bawa Aku Pergi dari Sini

Aku Tidak Suka!

Untuk Apa???