Cerita Tentangmu... (Bag. 3)
"Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak bisa kau rencanakan cintamu buat siapa. Menikah itu nasib, mencintai itu takdir" - Sudjiwo Tedjo
Pepatah itu mungkin benar adanya. Ketika suatu hari nanti kau memutuskan untuk menikah dengan seseorang, tapi nyatanya, jauh di dasar hati yang paling dalam, yang tak bisa terjamah oleh tangan-tangan manusia biasa, kau menyimpan nama seseorang. Kau mengukirnya dengan begitu indah. Dengan bahasa yang hanya bisa diartikan oleh dirimu sendiri. Dengan isyarat yang tak kasat mata. Ya, itulah cinta. Cinta rahasia. Pengagum dalam diam. Pengamat dalam keheningan.
Dan kehilangan itu merupakan sesuatu yang pasti.
Itu juga benar. Dalam hidup, setiap kali kita menghela nafas, selalu ada yang datang dan pergi. Begitupun dengan cinta. Kita tak pernah tau kapan cinta itu akan datang, dan kapan pula cinta itu akan pergi. Seperti halnya aku, yang berkomitmen untuk mencintaimu sejak 2 tahun lalu, berkomitmen untuk menerima semua kekuranganmu, berkomitmen untuk selalu ada di saat-saat kamu membutuhkan bantuan dan dukungan, meski pada akhirnya aku harus kenyaataan pahit, kau tak pernah menganggap aku ada. Kau hilang, pergi bersama bayanganmu yang kuharap masih tetap disini, untuk menemaniku, meski hanya dalam bentuk kata-kata.
Itu sungguh penolakan yang luar biasa mengenaskan!
Tak perlu dibahas, tak perlu mengulang menjelasan yang sama, karena aku sudah terlalu sering menyinggungnya di setiap kata yang kurangkai, mengapa pada akhirnya kita seperti ini. Aku, wanita malang yang mendapat bongkahan es raksasa darimu. Aku, wanita malang yang dikutuk untuk hidup dalam mendung atas murkamu padaku. Dan bongkahan es yang kau beri ini, menanti sang matahari terbit untuk mencairkannya. Karena seperti yang kita tahu, es tak akan mencair pada cuaca mendung, gelap dan dingin.
Sampai kapan aku harus menunggu? Aku tidak tahu. Membayangkan kau selalu bersamanya saja, aku tidak sanggup. Bagaimana jika....
Aakkhhh!!!
Cepat atau lambat, aku pasti akan menerima kabar buruk itu. Tentu aku harus menyiapkan mental, bukan?? Berlatih membayangkannya dari sekarang bukan sesuatu yang buruk-buruk amat bagiku. Meski nafasku terdengar memburu 2 kali cepat tiap kali pikiran buruk tentangmu dan dia terlintas dalam benak ini.
Cinta ini terlalu kuat!
Itulah yang aku benci selama ini. Sekuat apapun aku bertekad melupakan, sekeras apapun aku berusaha untuk mencoba membuka hati pada pria lain, sekonyol apapun aku menghibur diri, dan semarah apapun aku padamu atas kesalahanmu yang dulu, tetap saja, aku tak bisa membencimu, aku tak pernah bisa mengenyahkan bayangan wajahmu yang kerap muncul mengganggu pikiran dan mimpiku. Tangan ini, mata ini, tak pernah berhenti untuk mencari tahu tentang segala aktifitasmu. Menyedihkan bukan???
Mau sampai kapan aku seperti ini??? Terus-terusan mengharapkanmu, memandangmu lewat lubang-lubang tak kasat mata, mendoakanmu dalam diam, menangisimu di saat otak ini memainkan memori tentang kita di waktu dulu, mau sampai kapan??? Aku tidak tahu! Selama ini aku hanya mempercayakannya pada waktu. Aku percaya lambat laun waktu akan mengikis segala tentangmu sampai tuntas. Tapi sepertinya aku salah. Salah besar. Waktu seperti mempermainkanku. Mereka seolah tak mengizinkanku untuk mendepakmu dari ingatan. Mereka ingin aku terus-terusan membiarkanmu menari dalam ingatanku. Bukankah ini gila???
Terkadang aku berpikir, bagaimana jika kelak nanti giliranku untuk menikah?? Masihkah aku akan mengingatmu sampai segila ini??? Masihkah aku akan menceritakanmu dalam seri-seri ceritaku yang lain??? Oohh Tuhan... Ini benar-benar di luar jangkauanku. Di saat aku harus melayani pria lain sebagai suamiku sehidup semati, namun pada kenyataannya, terselip satu nama yang seorangpun tak tahu dimana aku menyembunyikannya. Yaitu kamu. Pria patung es ku!
Seperti kata pepatah di atas, kita bisa berencana menikahi siapa, tapi tak bisa kita rencanakan, cinta kita untuk siapa. Dan entah kenapa, aku merasa, pepatah itu seperti sindiran halus untukku kelak. Aku, yang akan menikahi pria lain, namun sayangnya memiliki cinta yang berlebihan untuk sosok pria di masa lalu yang sulit untuk dilupakan.
Dan teruntuk siapapun pria di luar sana yang akan menjadi imam di masa depanku kelak, aku harap kalian tak akan pernah membaca tulisan yang ada di blogku ini. Aku khawatir kalian akan sakit hati jika tahu isi hatiku yang sebenarnya. Sungguh, itu bukan kemauanku! Aku tau mau menanggung tumpukan kekecewaaan kalian akibat cintaku yang masih tertambat pada sosok yang nyaris tak pernah menganggap aku ada. Maaf.... Maaf sekali lagi kukatakan, jangan pernah terbersit untuk membaca tulisan-tulisan di blogku, wahai siapapun yang akan menjadi imamku kelak.