Penasaran (8)
Salah satu hal terbodoh yang masih aku lakukan hingga sekarang adalah: memikirkan seseorang yang sama sekali tidak pernah memikirkan aku.
Itu benar-benar tindakan terbodoh yang tidak pernah berhasil aku hentikan sampai saat ini. Entah apa yang membuatku terus memikirkan sosok jahat itu. Tidak, aku bukan hanya memikirkan, tapi aku masih saja terus mencari. Ya, mencari tahu segalanya tentang dia. Ada rasa penasaran yang belum tuntas, dan itu cukup mengganggu.
Harusnya, aku tidak perlu melakukan hingga sejauh ini dan membuatku terus terbelenggu dalam bayangannya. Segala kejahatan yang pernah dia lakukan terhadapku, harusnya bisa menjadi alasan kuat untukku agar bisa segera melupakan dia. Tapi sayangnya aku tidak bisa. Entah karena Tuhan yang memang belum mengizinkan aku untuk move on, atau memang dari akunya saja yang bodoh. Ya kuakui, aku sangat bodoh. Tidak bisa terlepas dari pria yang pernah menjahatiku padahal hal itu cukup mudah untuk dilakukan jika aku bertekad lebih kuat sedikit saja.
Dan teruntuk orang-orang disana, yang masih saja terus mengganggu dan menanyakan kapan aku akan kembali, terus terang, berat bagiku untuk kembali ke tempat itu. Karena disanalah sumber penyakit hatiku berasal. Aku tidak bisa menjamin, jika kelak aku tetap memutuskan untuk kembali kesana, apakah batinku akan aman-aman saja atau malah justru sebaliknya.
Aku tahu, diantara kalian, meski kalian tidak mau mengakuinya, kalian pasti tahu dimana keberadaan dan bagaimana kabar dari pria jahat itu. Kalian temannya, teman dekatnya, sudah tentu kalian pasti tahu segala hal tentang dia. Mustahil dia tidak menghubungi kalian saat dia memutuskan untuk mengganti nomornya. Karena baginya, kalian bukan pengganggu. Kalian layak dihubungi agar tidak terputus komunikasi. Berbeda denganku. Baginya, aku adalah pengganggu. Sama sekali tidak pantas untuk tahu apapun tentangnya.
Ini sangat menyakitkan. Diperlakukan berbeda dari dulu hingga sekarang. Ya, dulu, saat aku dan dia pertama kali dekat. Sayangnya aku kurang peka dan terus membenamkan diri dalam hal-hal yang kuanggap positif. Ya, meski dijahati, aku selalu berusaha untuk berfikir positif demi menghibur diri. Bodoh, bukan?
Dan sekarang, harusnya menjadi momen yang tepat untuk mulai menghapus segalanya. Sesulit apapun, aku harus bisa. Kesehatan batinku menjadi taruhannya. Aku tidak bisa terus terbelenggu dalam kebodohan seperti ini. Ya, semoga saja Tuhan dan semesta mendukung keinginanku agar sosok jahat itu benar-benar enyah tak berbekas dari hati dan ingatan ini.
Semoga!