Sang Benalu
Semua terasa salah.
Memohon maaf ternyata tidak semata-mata bisa menghapuskan dosamu dari ingatan seseorang. Meski pada kenyataannya kau telah berusaha bersikap hangat, berusaha membangun kembali keakraban yang dulu sempat hilang, namun ternyata itu semua sia-sia. Gunung es tetaplah gunung es. Meski matahari membara di atas sana, dia akan tetap seperti itu. Dingin dan beku.
Atau mungkin, kau adalah perwujudan dari benalu?
Bisa jadi kemungkinannya seperti itu. Apa lagi julukan yang pantas untuk seseorang yang kerap diabaikan, yang kerap disuguhkan dengan tatapan tajam menusuk, yang kerap dianggap angin lalu saat kau mulai berbicara?? Benalu seperti itu bukan?? Sesuatu yang dianggap sangat mengganggu, parasit, perusak. Walaupun sebenarnya kau sama sekali tidak bermaksud untuk mengusiknya. Kau hanya ingin menghangatkan suasana, mencairkan kebekuan yang selama ini mengungkung kalian. Tapi apa mau dikata, dia tak seide denganmu. Dia malah bersikap seolah-olah kau adalah benalu.
Menyakitkan.
Sesak rasanya saat kau diperlakukan layaknya sang benalu. Dianggap sebagai sosok yang tak kasat mata bukanlah hal yang menyenangkan. Tidak mudah merajut untaian kata di tengah hembusan angin es yang bertiup kencang di sekitar kalian. Itu luar biasa sulit. Sulit sekali. Sangat tidak sepadan apabila kau mendapat bayaran yang sedemikian pahit seperti itu darinya.
Sang benalu.
Semua serba salah. Tersenyum salah, tertawa salah, menyapa salah, menegur salah. Apapun itu semua bernilai salah di matanya. Meski kau memalaikatkan diri, kata "benar" tetaplah haram untuk orang yang sudah mendapat gelar benalu.
Dan dalam sekejab kaupun sukses menjelma menjadi sosok yang hina.
Kau ingat, kesalahanmu yang dulu, yang mungkin bagi sebagian orang itu biasa-biasa saja, tapi tidak untuk dia. Baginya, kesalahanmu tersebut bisa setara dengan dosa zina. Benar-benar hina. Keterlaluan. Memohon ampun tidaklah cukup baginya untuk menghapuskan semua kesalahan yang pernah kau lakukan dulu. Mungkin, satu-satunya jalan terbaik agar kau dimaafkan, agar kau tak dianggap benalu lagi, adalah enyah. Iya, kau enyah dari kehidupannya. Menjauh sejauh mungkin. Berlari sekencang-kencangnya dan jangan pernah menoleh ke arahnya lagi.
Berat. Berat memang. Tapi apa boleh buat, kau sudah terlanjur dicap jelek olehnya. Kau benalu, parasit, hanya mengganggu hidupnya saja. Memang benar, hati dan dirimu tidak bermaksud seperti yang ia tuduhkan. Namun kau tahu sendiri, jika orang sudah menanamkan kebencian di hatinya, apapun yang orang lain lakukan, tetap akan bernilai hina di matanya. Setidaknya itu yang harus diingat, untuk kau yang telah dihakimi sebagai sang benalu oleh dia yang pernah kau lukai dulu.