I Miss You
Pilihan manusia itu bisa berubah seiring berjalannya waktu. Termasuk untuk urusan hati. Kau yang awalnya begitu memuja-muja dia, mengaguminya dalam diam, bahkan tak peduli saat dia mengabaikanmu secara terang-terangan, pada akhirnya memutuskan untuk pergi. Memilih untuk tak peduli lagi padanya. Kecewa?? Tentu saja! Manusia normal mana yang akan terus-terusan mengejar seseorang yang bertingkah layaknya patung es?? Selalu membeku, tak ada tanda-tanda bakalan mencair.
Pun sebaliknya, saat kau begitu membenci seseorang, muak dengan segala tingkah lakunya, bahkan menyumpahinya dengan begitu keji, namun pada akhirnya kaupun luluh. Kau kembali membutuhkannya, merindukannya, berharap dekapannya bisa terus menghangatkanmu.
Maha besar Allah yang sanggup membolak-balikkan hati manusia.
Benar, ada sesuatu yang salah saat pikiranku kembali tertuju padamu. Aku, yang selama beberapa tahun belakangan ini konsisten untuk membencimu. Aku, yang kerap kali menatap jengah akan tindakan konyol yang kau gadang-gadang sebagai bentuk keromantisan itu. Aku, yang langganan mengeluarkan kata-kata pedas hanya untuk menghina dan memakimu. Yaa, aku yang jahat ini entah mengapa kembali mengingatmu.
Kau tahu, aku merindukanmu. Sangat. Memori masa lalu yang sudah kukubur rapi di dasar ingatanku, tanpa disangka-sangka kembali menyeruak ke permukaan. Berputar pelan memenuhi ruang ingatanku. Semua kenangan itu, masa dimana aku begitu menggilaimu, aku yang takut sekali untuk kehilanganmu, aku yang memiliki kadar kecemburuan yang melebihi ambang batas normal, aku yang kerap merelakan waktu istirahatku hanya untuk merawatmu ketika kau sakit dan jatuh terpuruk. Yaa, dulu aku pernah segila itu dalam mencintaimu. Sebelum akhirnya badai besar datang memporak-porandakan hubungan kita. Badai yang akhirnya membuat kita jadi seperti ini. Saling menyalahkan, saling berjauhan, bahkan kata-kata hinaan dan sumpah serapah tak pernah absen dari mulutku barang sedetik saja.
Sungguh, saat ini, aku benar-benar merindukan semua masa-masa indah itu.
Beberapa waktu yang lalu, aku sempat mencintai orang lain. Menjatuhkan hati (kembali) pada seseorang yang sebelumnya juga pernah mengisi hariku, jaauuhh sebelum kita resmi menjadi sepasang kekasih. Kau tahu, aku juga menggilainya waktu itu. Sampai-sampai aku melakukan hal nekad yang justru membuatnya malah menjauhiku. Selama beberapa bulan aku frustasi dibuatnya. Aku benar-benar tidak menyangka, kesintingan yang kulakukan karena rasa penasaran yang begitu menggebu, sukses menyulapnya menjadi sosok yang teramat dingin. Yaa, dia mengabaikanku dengan sadisnya. Menganggapku sebagai sosok tak kasat mata, menutup telinga untuk semua permohonan maafku, bahkan untuk mengakuiku sebagai temannya pun dia tak sudi. Benar-benar bentuk penolakan yang luaaarrr biasa dahsyat!
Dan kau tahu apa yang terjadi sekarang?? Hanya dengan satu kedipan mata, aku membencinya. Entahlah, aku juga bingung. Bagaimana mungkin perasaan yang begitu kuat ini bisa menguap begitu saja?? Padahal beberapa waktu yang lalu kami masih sempat bercakap-cakap di salah satu media sosial, dan perlu ku akui, saat itu, perasaanku padanya masih teramat kencang. Hatiku masih berdebar-debar saat menunggu balasan chat darinya. Sungguh sesuatu yang aneh jika dalam hitungan hari perasaan itu bisa hilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
Apa mungkin ini efek dari penolakan yang sering dia lakukan padaku?? Atau akunya yang sudah terlanjur lelah untuk memperjuangkannya?? Oohh atau mungkin ini jawaban dari Tuhan bahwa dia adalah sosok yang tak pantas untuk terus kutangisi dan kuperjuangkan?? Entahlah, yang jelas sekarang aku sudah tak lagi memikirkannya, tak lagi menggalaukannya. Kupastikan aku membenci sosok patung es itu, bahkan bisa dikatakan aku sudah mendepaknya keluar dari ingatan. Dan sebagai gantinya, isi kepalaku hanya ada kamu, pria yang rajin kuhujani dengan emosi membabi-buta selama beberapa tahun terakhir.
Sekali lagi kukatakan, maha besar Allah dalam membolak-balikkan hati manusia.
Sekarang aku paham maksud dari kata-kata tersebut. Seseorang yang kau anggap baik, belum tentu benar-benar baik untukmu. Pun sebaliknya. Seseorang yang kau pandang hina, belum tentu benar-benar hina di matamu. Semua hanya masalah waktu. Dan ketika waktunya sudah tiba disaat yang tepat, kau akan mengetahui apa yang sesungguhnya diinginkan oleh hatimu. Seperti aku, yang konsisten membencimu dalam waktu yang cukup lama. Benar katamu, jauh di dasar hatiku, sebenarnya aku masih menyimpan namamu, aku masih mencintaimu. Hanya karena keegoisanku, semua perasaan itu tertutup, nyaris tak terlihat lagi. Entah bagaimana caranya, kabut hitam yang menutupi hatiku selama ini, perlahan mulai menyeruak lagi. Sisi putih yang kukubur dengan begitu dalam, kembali terlihat dan memunculkan kerinduan yang tak terbendung.
Yaa, aku merindukanmu, sosok pria masa laluku.