Tentang Kebohongan
Berbohong demi kebaikan.
Kurasa tidak ada yang salah dengan kata-kata tersebut. Disaat kau dalam kondisi terdesak dan tak ingin terjadi sesuatu yang buruk, berbohong adalah jalan terbaik.
Memang kedengarannya pengecut sekali. Tak mau mengakui kesalahan hanya demi sebuah kedamaian. Tapi, jika ini urusannya menyangkut orang yang kau sayang, jalan ini harus kau ambil. Mau tak mau, suka tak suka. Kau tentu tak mau menghadirkan kekecewaan yang bertubi-tubi, bukan??
Tentu saja. Tidak ada manusia yang ingin mempersembahkan kekecewaan, kesakitan dan kesedihan untuk yang kesekian kalinya. Meski telah berjuang mati-matian, menekan ego, bahkan berusaha untuk mengalah pada kehendak orang lain, tapi yang namanya kekecewaan sangat sulit untuk dilawan. Apalagi jika ternyata garis takdir tidak menuliskannya untukmu, tentu akan semakin mempersulit keadaan.
Sedih?? Tentu saja. Mau menangis berton-ton pun tak akan pernah mengubah keadaan. Disaat kau dituntut untuk menceritakan hasilnya, sementara kau tau, kekecewaan lagi yang kau dapat, mau tak mau drama kebohongan harus kau jalankan. Melihat orang yang kau sayang nampak bermuram durja tentu bukan kehendakmu. Sangat sulit untuk berkata jujur.
Dosakah???
Biarlah itu menjadi urusan di akhirat kelak. Yang terpenting sekarang, menyelamatkan perasaan orang-orang yang kau sayang dari tumpukan kekecewaan yang kembali hadir. Meski itu sifatnya hanya sementara, sedikit berbohong tentu akan memberi efek "lega". Melihat gurat senyum di wajah mereka merupakan suatu kebahagiaan tersendiri, meski di dalam sini (re: hati) ada luka yg tak tertahankan karena kekecewaan yang terus bermunculan.