Sebuah Pengabaian
Desember ini genap 3 bulan kau mengacuhkan aku!
Benar-benar sebuah bentuk pengabaian yang luar biasa! Tak pernah aku begini sebelumnya dan kau adalah orang pertama yang melakukan hal ini padaku. Sebegitu besarnya dosa yang aku lakukan padamu sampai-sampai kau begitu angkuhnya mengacuhkan aku. Ya, kuakui aku memang bersalah. Sangat-sangat bersalah! Wajar jika kau bersikap seperti itu.
Bahkan kata maaf yang terlontarpun tak bisa membuatmu bergeming!
Kau tahu, betapa kerasnya degup jantungku saat aku mengetikkan kata "maaf" itu?? Walau hanya satu kata, tapi itu berhasil membuat jantungku nyaris copot. Lalu, apa responmu? Dengan dinginnya kau malah balik bertanya padaku. See??? Aku benar-benar merasa jadi orang yang paling hina pada saat itu. Gelombang amarahmu yang begitu besar berhasil membuatku tenggelam dalam ketakutan dan kesedihan.
Kau sungguh patung es yang tak tercairkan lagi!
Bahkan di dalam mimpiku pun, kau terlihat begitu dingin. Yah, sekarang aku mulai mengerti arti tatapan kosongmu di mimpiku waktu itu. Aku harus jujur padamu, aku tidak mempunyai kekuatan itu. Mengertilah. Jika kau menginginkan aku untuk berbicara langsung padamu, bisa dipastikan aku akan menjadi patung. Hey tunggu dulu! Mau berbicara langsung itu harus ada kesempatan untuk bertemu, bukan??? Hohohoo, aku hampir saja melupakannya. Jangankan untuk bertemu, membaca pesanku saja kau malas. Jadi bagaimana mungkin kita bisa saling bertatap muka langsung???
Sudahlah!
Pada akhirnya aku hanya berani mengungkapkan kata maaf lewat tulisan-tulisanku ini. Cukup mewakili, kan??? Aku hanya ingin kau tau dan menyadari bahwa aku benar-benar merasa bersalah padamu. Aku sungguh-sungguh ingin meminta maaf. Seandainya ada kesempatan, aku ingin menjelaskan semuanya padamu. Aku lelah terus berdiam-diaman seperti ini, mengingat seperti apa akrabnya kita dulu.
Bisa kau beri aku kesempatan untuk menjelaskan atas semua yang aku lakukan padamu???