Rangkul Aku...!!!
Entah perasaan apa ini namanya. Semuanya berkecamuk, berbaur menjadi satu. Resah, gelisah, ketakutan, kecemasan, semua meluap bersama emosi dan airmata yang tak terbendung. Tuhan... Engkau maha mengetahui apa yang saat ini tengah aku rasakan. Bagaimana kondisi hatiku saat ini. Tanpa perlu aku jelaskan, Engkau sudah mengetahuiNya terlebih dahulu.
Tuhan...
Sesungguhnya saat ini aku membutuhkan sebuah pelukan. Aku membutuhkan sebuah rangkulan. Aku membutuhkan uluran tangan itu. Aku membutuhkan suara itu...
Tuhan...
Seandainya bisa dilukiskan, beginilah gambaran kondisiku saat ini...
*tepi jurang - lemah - sendiri - gelap - tanpa pegangan - tanpa ada seorangpun - tanpa ada setitik cahaya - lorong gelap - merangkak - terluka*
Tuhan...
Mungkin ini sedikit berlebihan. Tapi sesungguhnya inilah yang tengah kurasakan saat ini...
Okee berbicara tentang jurang...
Tuhan...Kau tahu, saat ini aku tengah berdiri di tepi jurang sendiri, dengan kondisi lemah - sangat lemah malah. Heii...aku bahkan nyaris jatuh. Sedikit saja aku lengah, aku akan ambruk ke bawah, hancur berkeping-keping. Lihatlah sekelilingku, gelap! Tanpa ada setitik cahaya. Bahkan aku tak mendengar suara apapun disini. Tak ada tanda-tanda akan kedatangan seseorang untuk menyelamatkanku. Aku benar-benar sendiri! Senyap! Angin bertiup begitu kencangnya, membuat tubuhku yang semakin lemah ini terasa gontai...
Tuhan...
Seandainya aku jatuh saat ini juga, adakah yang akan menolongku?? Adakah malaikat bersayap atau "elang raksasa" yang akan menangkapku sebelum akhirnya aku benar-benar jatuh?? Bolehkah aku berharap seperti itu, Tuhan?? Atau mungkin...aku memang harus mati sengsara?? Hancur berkeping-keping, tak ada yang peduli. Seperti apa takdir yang Kau tulis untukku, aku tak pernah tahu...
Okee, sekarang tentang lorong gelap...
Tuhan, Kau tahu bagaimana sesaknya saat berada di dalam lorong gelap yang sempit?? Seseorang "mungkin" menjerumuskanku. Atau mungkin ini kesalahanku sendiri. Aku sudah merangkak terlalu jauh di dalam lorong ini. Mau mundur sudah tak bisa lagi.
Tuhan....
Lorong ini sempit sekali, pengap, gelap...dan aku...sendirian! Tuhan...tubuhku sudah terlalu letih untuk merangkak lebih jauh lagi. Luka disana sini. Aku tak tahu seberapa panjang lorong ini. Aku ketakutan, benar-benar takut, Tuhan. Tuhan...dimana cahaya itu?? Harus merangkak kemana lagi aku?? Aku lelah, Tuhan. Tak bisakah Engkau memberikanku pendengaran sedikit saja, agar aku tahu kemana arah yang aku tuju. Tuhan....sekejam itukah engkau padaku, sampai-sampai Engkau tak memberi seorangpun untuk menjadi penuntunku?? Aku membutuhkan sebuah uluran tangan untukku, Tuhan... Cukup satu uluran saja, tidak lebih, sampai aku berhasil keluar dari lorong gelap ini. Jika nanti yang memberi uluran tangan itu harus pergi, aku tak mengapa. Yang penting dia sudah bersedia untuk menarikku dari lorong kegelapan ini.
Tuhan....
Maaf jika aku sudah su'udzon padaMu. Bukan aku mau membenci takdirmu, tapi aku sudah terlalu lelah menghadapi semua ini. Sesungguhnya aku tidak ingin menyerah begitu saja pada keadaan, tapi tubuhku terlalu lemah. Aku membutuhkan cahayaMu, aku membutuhkan malaikat penolong itu. Entah pada siapa lagi aku harus berkeluh kesah. Semua yang kuharapkan, tak bisa menolongku. Mereka justru semakin menjatuhkan aku, membiarkan aku sendiri, memperjuangkan hidupku sendiri.
Tuhan...
Begitu hinanya aku sampai-sampai tak ada yang bersedia untuk menjadi malaikatku walau hanya sebentar?? Aku tidak minta berlama-lama, cukup untuk saat ini saja. Aku membutuhkan kekuatan itu. Aku membutuhkan rangkulan itu. Aku membutuhkan uluran tangan itu. Aku membutuhkan sayap-sayap itu...
Heii adakah yang bersedia?? :')